<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
>

<channel>
	<title>Financial Happiness</title>
	<link>http://bahagia.blogsome.com</link>
	<description>meraih bahagia melalui kendali keuangan</description>
	<pubDate>Fri, 08 Dec 2006 08:11:48 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>
	<language>en</language>

		<item>
		<title>Sensitivitas uang</title>
		<link>http://bahagia.blogsome.com/2006/12/08/sensitivitas-uang/</link>
		<comments>http://bahagia.blogsome.com/2006/12/08/sensitivitas-uang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Dec 2006 08:11:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>khairul</dc:creator>
		
	<category>Konsep</category>
		<guid>http://bahagia.blogsome.com/2006/12/08/sensitivitas-uang/</guid>
		<description><![CDATA[	Berapa isi rekening tabungan Anda di bank? Besar kemungkinan Anda hanya ingat pembulatan dua angka pertama. Misalnya tabungan Anda bernilai 6.735.856 , paling-paling Anda ingat sekitar 6,7 juta, atau bahkan cuma 6 juta. Jadi kalau ada yang mencuri sebesar 10 ribu setiap bulan dari rekening itu, Anda tidak akan tahu. Dua angka itu dapat kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Berapa isi rekening tabungan Anda di bank? Besar kemungkinan Anda hanya ingat pembulatan dua angka pertama. Misalnya tabungan Anda bernilai 6.735.856 , paling-paling Anda ingat sekitar 6,7 juta, atau bahkan cuma 6 juta. Jadi kalau ada yang mencuri sebesar 10 ribu setiap bulan dari rekening itu, Anda tidak akan tahu. Dua angka itu dapat kita sebut tingkat sensitivitas kita terhadap uang. Kebanyakan orang, apakah penghasilannya sedikit ataupun banyak, hanya mengingat dua angka saja dari nilai uang yang dia miliki.</p>
	<p>Apa bedanya ponsel seharga 500.000 dan 499.000? Bedanya, sekilas harga yang kedua lebih murah, padahal relatif sama saja. Itu juga akibat kecenderungan kita untuk sensitif pada angka pertama, kemudian baru pada angka kedua. Nah itulah yang menarik untuk kita amati. <a id="more-6"></a></p>
	<p>Suatu ketika bersama dengan istri membeli telur asin di Griya. Harga tercantum adalah Rp 3.275 untuk 2 butir. </p>
	<p>&#8220;Mahal nggak dik?&#8221; tanya saya.</p>
	<p>&#8220;Ah, hanya selisih 300 rupiah,&#8221; jawabnya.</p>
	<p>Kalkulasi mental secara cepat membulatkan telur tersebut menjadi 3.200 (aslinya 3.275!), kemudian seingat istri saya harga telur asin yang biasa kami beli adalah 1.300. Jadi duabutir telur seharga 3200 berarti per butirnya 1.600. Alias selisih 300 perak saja. Padahal kalau dihitung lebih teliti, selisih dua telur tersebut adalah 3.275 (dua telur) dengan 2.600 (dua telur), atau berarti 675. Persentase selisih lebih mahal adalah 25,96% alias 26%! Andai setiap kali beli kita membeli dengan ekstra lebih mahal 25% betapa cepat bangkrutnya kita!</p>
	<p>Tapi ya itu, kan total ruginya cuma 375. Masih dapat ditolerir. Bandingkan dengan kerepotan untuk beli di warung yang berbeda. Yah, kebetulan cuman telor. Bagaimana saat membeli voucher handphone, bagaimana beli aqua galon, bagaimana saat membeli buku? Dan sebagainya.</p>
	<p>Semua itu tidak terasa rugi karena sensitivitas kita masih berada di atas harga selisih yang kita tanggung. Sebagian orang sensitif pada pembulatan 1000-an rupiah. Sebagian lain mulai sensitif pada pembulatan 5000-an. Dan kalau Anda berpenghasilan hingga puluhan juta rupiah setiap bulan, mungkin Anda baru serius melihat selisih harga bila melewati angka 50.000-an.</p>
	<p>Yang jelas, sensitivitas kita terhadap nilai uang menjadi salah satu penyebab mengapa seringkali uang kita tidak cukup setiap bulannya. Ha, ini baru menjadi serius!
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bahagia.blogsome.com/2006/12/08/sensitivitas-uang/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Ilmu silat uang</title>
		<link>http://bahagia.blogsome.com/2006/12/06/kungfu-bahagia-keuangan/</link>
		<comments>http://bahagia.blogsome.com/2006/12/06/kungfu-bahagia-keuangan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Dec 2006 02:47:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>khairul</dc:creator>
		
	<category>Konsep</category>
		<guid>http://bahagia.blogsome.com/2006/12/06/kungfu-bahagia-keuangan/</guid>
		<description><![CDATA[	Apakah Anda mau naik gaji 3 kali lipat dengan cepat?
	Apakah Anda mau meningkatkan keberhasilan usaha Anda 1000 bahkan 10.000 persen?
	Apakah Anda ingin berpenghasilan tak terbatas?
	Begitulah kira-kira berbagai bentuk iklan yang sering kita lihat tentang training keuangan. Iklan itu benar, dan sah-sah saja. Hanya saja iklan itu menggambarkan sebagian dari cara seseorang untuk meraih kebahagiaan finansial. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Apakah Anda mau naik gaji 3 kali lipat dengan cepat?</p>
	<p>Apakah Anda mau meningkatkan keberhasilan usaha Anda 1000 bahkan 10.000 persen?</p>
	<p>Apakah Anda ingin berpenghasilan tak terbatas?</p>
	<p>Begitulah kira-kira berbagai bentuk iklan yang sering kita lihat tentang training keuangan. Iklan itu benar, dan sah-sah saja. Hanya saja iklan itu menggambarkan sebagian dari cara seseorang untuk meraih kebahagiaan finansial. Ikaln itu hanya berfokus pada bagaimana kita meningkatkan penghasilan.</p>
	<p>Padahal untuk meraih bebas finansial diperlukan 3 ilmu sekaligus : ilmu mengendalikan uang, ilmu menghasilkan uang, dan ilmu menyimpan uang. Kalau dalam dunia persilatan, ada tiga ilmu yang utama : kuda-kuda, jurus pukulan dan tangkisan, dan tenaga dalam.<a id="more-5"></a></p>
	<div align='center'><a href="http://www.pencak-silat-nice.com/"><img src="/images/pesilat_FH.jpg" alt="silat uang" align='center' border=0  /></a></div>
	<p><strong>Kuda-kuda kendali diri</strong></p>
	<p>Kebanyakan orang dalam tujuan meraih kekayaan mengandalkan kenaikan penghasilan. Apakah cara ini dijamin berhasil? Tidak. Justru ilmu pertama yang perlu dikuasai adalah ilmu pengelolaan keuangan. Kalau dalam silat, inilah yang disebut &#8216;kuda-kuda&#8217;.</p>
	<p>Semua perguruan silat saat pertama kali melatih anggota baru berfokus pada mengajarkan kuda-kuda. Percuma punya jurus pukulan sakti, percuma juga punya tenaga dalam yang hebat, selama kuda-kudanya lemah seseorang akan terpelating dan terluka oleh jurusnya sendiri.</p>
	<p>Demikian pula dalam mengelola uang, yang pertama kali diajarkan haruslah ilmu mengelola uang sedemikian rupa sehingga berapapun uang yang Anda miliki akan bisa cukup untuk memnuhi kebutuhan Anda. Kalau ilmu yang ini belum dikuasai, maka berapapun penghasilan Anda akan tetap kurang dan nombok di akhir bulan.</p>
	<p>Sedemikian pentingnya ilmu kuda-kuda ini sehingga bila seseorang sungguh-sungguh ingin menguasai ilmu menjadi kaya, maka yang perlu dipelajari pertamakali adalah ilmu pengendalian uang ini.</p>
	<p><strong>Jurus penghasilan</strong></p>
	<p>Setelah mempunyai dasar pengelolaan uang yang cukup baik (dibuktikan dengan cukupnya penghasilan Anda dan bebas hutang), maka ilmu berikutnya yaitu jurus pukulan dan tangkisan baru layak dikuasai. Ilmu ini adalah berbagai kiat untuk bisa menghasilkan &#8216;massive income&#8217;, yaitu pendapatan yang besar, yang bisa menyisakan tabungan setelah dikurangi dengan keperluan rutin sehari-hari. Ada berbagai kita, ada berbagai jurus, ada berbagai jenis pukulan sakti yang bisa digunakan untuk mendapatkan penghasilan yang besar. Setiap orang tentunya perlu mempunyai satu dua jurus pamungkas, selain jurus-jurus standar dalam mencari penghasilan.</p>
	<p>Apakah dalam pekerjaan Anda sekarang, Anda sudah punya jurus pamungkas? Kita bisa evaluasi dengan seberapa cepat dan sering kita bisa mendapatkan penghasilan yang relatif cukup besar. Kalau selama ini penghasilannya relatif stabil (dan kecil), berarti belum menemukan jurus sakti pamungkas.</p>
	<p><strong>Tenaga dalam investasi</strong></p>
	<p>Puncak dari ilmu silat akhirnya adalah tenaga dalam. Percuma juga punya kuda-kuda yang benar, jurus yang bagus, tapi tidak punya tenaga dalam. Tenaga dalam di keuangan adalah ilmu invetasi yang akan memberikan Anda penghasilan pasif. Ini seakan-akan membangun tenaga dalam yang akan membuat silat Anda makin dahsyat. Ini juga seakan ilmu pernafasan menyimpan nyawa, yang akan membuat Anda bisa bangkit kembali setelah kalah telak dalam sebuah pertempuran.</p>
	<p>Ibaratnya, andai Anda mendapat musibah berupa PHK, atau mengalami sakit dan kecelakaan, atau memang pensiun, maka penghasilan dari investasi inilah yang akan menyelamatkan Anda. Ibaratnya, setelah makin tua dan fisik makin lemah, maka pesilat tangguh akan tetap hebat jika memiliki tenaga dalam yang hebat.</p>
	<p>* * *</p>
	<p>Jadi kita perlu memiliki 3 ilmu sekaligus, yaitu kuda-kuda, jurus sakti, dan tenaga dalam. Urutannya pun demikian. Mula-mula pelajari dulu hingga mahir tentang kuda-kuda kendali uang. Kemudian tingkatkan untuk menguasai jurus sakti penghasilan. Lalu amankan hari tua Anda dengan menghidupkan tenaga dalam investasi.</p>
	<p>Ya, kira-kira begitulah!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bahagia.blogsome.com/2006/12/06/kungfu-bahagia-keuangan/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Jalan yang dianjurkan</title>
		<link>http://bahagia.blogsome.com/2006/12/02/jalan-yang-dianjurkan/</link>
		<comments>http://bahagia.blogsome.com/2006/12/02/jalan-yang-dianjurkan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Dec 2006 09:58:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>khairul</dc:creator>
		
	<category>Konsep</category>
		<guid>http://bahagia.blogsome.com/2006/12/02/jalan-yang-dianjurkan/</guid>
		<description><![CDATA[	Akhir-akhir ini makin banyak saja orang membicarakan tentang bebas finansial. Anda tidak paham tentang bebas finansial? Ya, berarti Anda ketinggalan.
	Konsep bebas finansial mungkin sudah tua umurnya, namun seakan menjadi baru kembali ketika buku Rich Dad Poor Dad tulisan Robert Kiyosaki laris manis di pasaran. Financial freedom, itulah mantra yang dipakai untuk menyihir banyak orang agar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Akhir-akhir ini makin banyak saja orang membicarakan tentang bebas finansial. Anda tidak paham tentang bebas finansial? Ya, berarti Anda ketinggalan.</p>
	<p>Konsep bebas finansial mungkin sudah tua umurnya, namun seakan menjadi baru kembali ketika buku Rich Dad Poor Dad tulisan Robert Kiyosaki laris manis di pasaran. Financial freedom, itulah mantra yang dipakai untuk menyihir banyak orang agar terjun ke dunia investasi, dan juga terutama disuarakan para pemasar MLM. Mantra ini memang dahsyat, dan saya pun ikut terkena sihirnya&#8230; hehe.</p>
	<p>Beberapa tahun lamanya mantra bebas finansial itu memberikan suatu semangat untuk merancang kehidupan finansial yang merdeka, bebas untuk melakukan apa saja. Itu dunia yang sangat indah, dan saya yakin memang indah. Bukankah sangat indah kalau Anda bisa berkarya tanpa harus pusing mikirin duit? Bukankah sangat indah kalau Anda bisa mengerjakan sesuatu karena ingin, dan bukan karena terpaksa?<a id="more-4"></a></p>
	<p>Sampai suatu ketika istri saya bertanya, &#8220;Lah, kalau semua hal ditunda sampai bebas finansial, kapan kita menikmatinya&#8230;?&#8221;</p>
	<p>Saya tercenung. Iya, ya, kalau tiba-tiba saya mati di tengah perjalanan menuju bebas finansial itu, trus semuanya buat apa? Saya ingat sebuah buku yang memuat sebuah cerita tentang seorang istri yang meninggal. Sang suami begitu menyesal dan menangis saat mendapati sebuah baju sang istri di almari yang masih terlipat bagus. Dia ingat, istrinya pernah berkata bahwa baju itu dia simpan agar bisa dipakai pada acara yang istimewa. Kenyataannya sang istri meninggal, dan baju itu belum sempat dipakai! Jadi buat apa baju itu ada? Kenapa tidak dia pakai saja baju bagus itu sehari-hari. Toh selalu bisa dibeli sebuah baju baru lainnya? Pesan moral cerita itu adalah agar kita sadar untuk menikmati keindahan dunia ini saat ini juga, dan tidak menunda-nunda untuk masa yang akan datang. Ya, kalau kita sampai pada masa yang akan datang itu.</p>
	<p>Tentunya maksud cerita itu bukanlah kita berfoya-foya hanya untuk masa kini. Maksudnya adalah harus hidup seimbang, menikmati masa kini sekaligus mempersiapkan masa depan. Jadi, jangan terfokus hanya kepada bebas finansial.</p>
	<p>Karena itulah jalan yang dianjurkan adalah menapaki jalan damai finansial. Inilah jalan awal yang perlu dituju. Andai, sekali lagi andai, tiba-tiba kita meninggal, maka paling tidak kita sudah mendapatkan kedamaian, sudah punya tabungan yang lebih penting yaitu tabungan akhirat. Sejujurnya saya sering melihat bahwa banyak orang terobsesi dengan jalan bebas finansial, akibatnya hidup mereka tampaknya hanya fokus mengejar kesuksesan dunia. Tak jarang agar cepat sukses, tampak sekali ambisi yang berlebihan hingga tidak menikmati suasana di sekitarnya. Fokusnya ada di suatu saat di masa depan, sehingga seperti kehilangan masa kini. Jalan bebas finansial itu panjang. Kiyosaki sendiri memperkirakan bahwa rata-rata seseorang yang berdisiplin untuk meraih bebas finansial memerlukan waktu hingga 20 tahun! Kalau seseorang hanya fokus pada bebas finansial, boleh jadi dia kehilangan nikmatnya kehidupan sepanjang perjalanan tersebut.</p>
	<p>Maka inilah jalan yang dianjurkan. Target pertama adalah menjadikan diri kita mencapai kedamaian finansial. Hidup damai dengan bebas hutang dan berkontribusi kepada kehidupan. Uang dipakai sebagai sarana menikmati kehidupan yang bermakna. Tentu ini bukan perkara sepele. Menjadikan diri agar berdisiplin bebas dari hutang memerlukan sikap yang berat bagi banyak orang. Uang selalu saja terasa tidak cukup. Padahal bukan uangnya yang tidak cukup, tapi keinginannya yang melebihi kemampuan. Kalau seseorang sudah mampu mengendalikan dirinya, maka damai finansial merupakan hal yang pasti dapat diraih. Pencapaian di jalan damai finansial ditandai dengan bebas dari hutang dan kegembiraan berkontribusi bagi kehidupan.</p>
	<p><img src="/images/FH_jalan.jpg" border=0 align="center"  alt="jalan FH" /></p>
	<p>Ukuran damai finansial adalah porsi sedekah yang cukup berarti dari penghasilan. Ini menuntut kerelaan yang tinggi. Selain itu ini juga menuntut kita untuk bebas hutang! Mengapa? Karena tidak layak bagi seseorang yang mempunyai banyak hutang untuk banyak bersedekah. Islam mengajarkan bahwa hutang harus didahulukan daripada sedekah, sehingga seorang gharim (orang yang banyak hutang kepada umum) adalah salah satu kelompok yang layak mendapat zakat fitrah!</p>
	<p>Lalu mereka yang banyak hutang apakah tidak perlu bersedekah? Salah juga. Dianjurkan bersedekah dalam porsi yang pantas (kecil) sebagai jalan untuk mengatasi masalah hutang itu. Loh, kok paradoks? Bersedekah dalam porsi yang pantas sebagai jalan untuk memakbulkan doa merupakan tuntunan agama pula. Yang tidak boleh adalah sedekah berlebihan, padahal masih banyak hutang.</p>
	<p>Seseorang perlu fokus untuk meraih damai finansial ini dahulu, baru kemudian fokus meningkatkan tingkatan pasif income. Dengan demikian jalan yang dianjurkan adalah, berusaha meraih damai finansial dan seterusnya meraih bahagia finansial. Sehingga, kalau saja tiba-tiba Anda terhenti di tengah jalan kehidupan, Anda tidak akan menyesal.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bahagia.blogsome.com/2006/12/02/jalan-yang-dianjurkan/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Antara anak dan uang</title>
		<link>http://bahagia.blogsome.com/2006/12/02/antara-anak-dan-uang/</link>
		<comments>http://bahagia.blogsome.com/2006/12/02/antara-anak-dan-uang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Dec 2006 09:54:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>khairul</dc:creator>
		
	<category>Konsep</category>
		<guid>http://bahagia.blogsome.com/2006/12/02/antara-anak-dan-uang/</guid>
		<description><![CDATA[	Si kecil yang baru berusia 6 bulan sedang tidur bergelung. Saya tiduran di sampingnya sambil mengamatinya dari belakang. Mungil nian anak ini, lucu sekali batin saya&#8230;.
	Mengapa orang-orang menginginkan anak? Demikian pikir saya. Bukankah anak hanya menambah kerepotan?
	Sebuah keluarga memiliki anak mungkin dengan alasan yang berbeda-beda. Saya kira tingkat harapan mereka kepada anak juga berbeda-beda.
	Tingkatan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Si kecil yang baru berusia 6 bulan sedang tidur bergelung. Saya tiduran di sampingnya sambil mengamatinya dari belakang. Mungil nian anak ini, lucu sekali batin saya&#8230;.</p>
	<p>Mengapa orang-orang menginginkan anak? Demikian pikir saya. Bukankah anak hanya menambah kerepotan?</p>
	<p>Sebuah keluarga memiliki anak mungkin dengan alasan yang berbeda-beda. Saya kira tingkat harapan mereka kepada anak juga berbeda-beda.</p>
	<p>Tingkatan yang paling rendah, saya kira, adalah mereka yang punya anak hanya agar merasa hidupnya normal seperti orang lain. Kalau sudah berkeluarga, ya mestinya ada anak. Kalau nggak ada, ya.. berarti kurang normal, tidak seperti orang lain umumnya. Begitulah kira-kira cara pandang sebagian orang pada tingkatan ini, anak dipandang sebagai sebuah kejadian lewat yang sudah semestinya. Biasa-biasa saja.</p>
	<p>Tingkatan kedua yang lebih tinggi adalah mereka yang memandang anak sebagai harta milik. <a id="more-3"></a>Biasanya tujuan mereka terhadap anak adalah untuk mendapatkan kegembiraan dan kebanggaan. Gembira mempunyai mainan yang lucu, ya anaknya itu. Bangga juga kalau anaknya tampan, atau berprestasi tinggi. Layaklah untuk dibanggakan. Anak adalah hiburan. Orang pada tingkatan ini menginginkan anak hanya pada sisi enaknya saja, senang-senangnya saja. Urusan susah, silahkan ditangani pembantu. Kalau anak sudah besar, ya bikin lagi, biar ada yang kecil dan lucu lagi.</p>
	<p>Tingkatan ketiga adalah mereka yang memandang anak sebagai persiapan di hari tua. Ini pemikiran yang lebih maju, bukankah kita nanti semakin tua, nanti siapa yang mengurus kita? Anak adalah asuransi. Anak yang berhasil dan sukses, biasanya yang diperhatikan adalah hasil duitnya, adalah jaminan untuk menghindari penderitaan di hari tua. Makanya orang tua banyak yang mendorong anaknya agar sukses sekolah dan bekerja. Anak sukses kan orang tua ikut terjamin? Anak adalah investasi. Anak adalah asuransi.</p>
	<p>Tingkatan paling tinggi adalah mereka yang memandang anak adalah ladang beramal. Sama dengan tingkatan ke tiga yang memandang anak adalah asuransi. Bedanya, pada tingkatan ke tiga anak dipandang hanya sebagai asuransi di dunia, sedangkan tingkatan keempat ini anak dipandang sebagai asuransi di akhirat. Hanya sebagian orang yang sungguh-sungguh sadar bahwa anak adalah asuransi terpenting yang akan memberikan amal tak terputus saat si orang tua telah mati. Tentu saja itu terjadi bila anak tersebut adalah anak shalih yang mendoakan orang tuanya. Pada tingkatan ini orangtua berfokus mendidik anaknya agar menjadi anak yang shalih sehingga hidupnya memberi manfaat pula kepada orang tuanya.</p>
	<p>Seharusnya kita menjadi orang pada tingkatan keempat itu.</p>
	<p>Ternyata demikian pula halnya dengan uang.</p>
	<p>Ada orang yang memandang mencari uang itu hanya sebagai suatu kenormalan hidup. Hidup ya&#8230; cari uang. Nggak kerja, rasanya nggak jadi manusia. Kerja ya biar menjadi normal, bisa hidup seperti orang lain pada umumnya.</p>
	<p>Tingkatan kedua adalah yang memandang uang untuk mencari kegembiraan dan kebanggaan. Biasanya uangnya dipakai untuk kesenangan hari itu juga. Wawasannya tentang uang sangat pendek, ada uang ya dipakai. Enjoy saja&#8230;.</p>
	<p>Tingkatan ketiga adalah yang memandang uang sebagai persiapan masa depan. Mereka memikirkan uang sedemikian rupa sehingga pada saat yang sulit di masa tua mereka sudah memiliki persiapan. Uang mereka sudah direncanakan sebagi asuransi dunia.</p>
	<p>Nah, tingkatan keempat tentunya adalah mereka yang memandang uang sebagai jalan amal. Uang dipandang sebagai asuransi buat kehidupan akhirat. Melalui uang mereka dapat menabung pahal sebanyak-banyaknya buat bekal mati.</p>
	<p>Seharusnya kita menjadi orang pada tingkatan keempat itu.</p>
	<p>Seharusnya kita memandang anak dan uang pada tingkat harapan yang tertinggi, menjadi penyelamat kehidupan kita, baik di dunia maupun di akhirat nanti&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bahagia.blogsome.com/2006/12/02/antara-anak-dan-uang/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Financial Happiness Model</title>
		<link>http://bahagia.blogsome.com/2006/11/22/financial-happiness-model/</link>
		<comments>http://bahagia.blogsome.com/2006/11/22/financial-happiness-model/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Nov 2006 10:13:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>khairul</dc:creator>
		
	<category>Konsep</category>
		<guid>http://bahagia.blogsome.com/2006/11/22/financial-happiness-model/</guid>
		<description><![CDATA[	Mari kita mulai dengan sebuah model. Model sangat penting untuk memudahkan pemahaman.
	
	Model ini menunjukkan kondisi keuangan seseorang. Sumbu mendatar, menunjukkan kemampuan kendali atas uang. Ada orang yang uangnya terbatas, ada yang longgar (merdeka). Pada sumbu ini indikatornya adalah rasio kemakmuran (wealth ratio /WR). Batas kedua kondisi adalah WR>=1. Penjelasan tentang WR ini dapat dipelajari pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Mari kita mulai dengan sebuah model. Model sangat penting untuk memudahkan pemahaman.</p>
	<p><img src="/images/model_FH.jpg" alt="model" /></p>
	<p>Model ini menunjukkan kondisi keuangan seseorang. Sumbu mendatar, menunjukkan kemampuan kendali atas uang. Ada orang yang uangnya terbatas, ada yang longgar (merdeka). Pada sumbu ini indikatornya adalah rasio kemakmuran (wealth ratio /WR). Batas kedua kondisi adalah WR>=1. Penjelasan tentang WR ini dapat dipelajari pada artikel <a href="http://sepia.blogsome.com/2005/09/16/cara-kaya-3-lompatan-kuantum-kekayaan/">Lompatan Kuantum kekayaan</a>.<a id="more-2"></a></p>
	<p>Selanjutnya sumbu vertikal adalah sumbu nilai spiritual dari uang. Indikator pada sumbu ini adalah banyaknya porsi sedekah dari kekayaan yang dimiliki (Giving Ratio/ GR). Tentang pentingnya sedekah untuk mencapai kebahagiaan dapat dipelajari pada artikel <a href="http://sepia.blogsome.com/2005/11/13/seni-bersedekah-bersedekah-membuat-kaya/">Seni Bersedekah</a>. Batas kedua kondisi adalah porsi sedekah mencapai 10% penghasilan (GR>=0.1).</p>
	<p>Dari model tersebut dapat digolongkan ada 4 kondisi keuangan seseorang.</p>
	<p>Kondisi pertama adalah mereka yang mengalami<strong> GAMANG FINANSIAL (Financial Uncertainty)</strong>, yaitu ketika uangnya pas-pasan, dan merasa sempit dalam hidup ini.</p>
	<p>Kondisi kedua adalah mereka yang sudah longgar keuangan dan mencapai <strong>BEBAS FINANSIAL (Financial Freedom)</strong>, yaitu mereka yang pendapatan pasif (passive income) sudah menutup biaya hidup, sehingga tidak perlu lagi pusing cari uang. Namun belum tentu orang semacam ini merasakan bahagia.</p>
	<p>Kondisi ketiga adalah mereka yang mencapai <strong>DAMAI FINANSIAL (Financial Peaceful)</strong>, yaitu mereka yang terbatas keuangan namun merasakan hidup yang bermakna.</p>
	<p>Dan kondisi keempat adalah yang mencapai <strong>BAHAGIA FINANSIAL (Financial Happiness)</strong>, yaitu memiliki keberlimpahan uang dan merasakan hidup yang bermakna secara spiritual.</p>
	<p>Saya yakin, kombinasi antara kemampuan menghasilkan pasif income, dan kerelaan untuk berbagi (sedekah) adalah kunci mencapai kabahagiaan finansial.</p>
	<p><strong>Perlu juga dicatat, bahwa boleh jadi tidak semua dari kita akan sempat mencapai Bebas Finansial, namun insya Allah semua diri kita bisa mencapai Damai Finansial.</strong></p>
	<p>Selanjutnya bagaimana untuk mencapai Damai Finansial, Bebas Finansial, atau Bahagia Finansial itu?</p>
	<p>Mari kita gunakan kerangka pikir (framework) SEPIA.</p>
	<p>Lima langkah SEPIA meraih kebahagiaan finansial :</p>
	<ol>
<li>benar memandang uang (SQ)</li>
	<li>yakin penggunaan uang (AQ)</li>
	<li>obyektif menilai uang (EQ)</li>
	<li>cerdik mengelola uang (PQ)</li>
	<li>pintar menghitung uang (IQ)</li>
</ol>
	<p>Dengan menggunakan 5 kecerdasan SEPIA itu kita bisa bertindak secara bijak dan cerdik untuk meraih <strong>Bahagia Finansial</strong>.
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bahagia.blogsome.com/2006/11/22/financial-happiness-model/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Motivasi</title>
		<link>http://bahagia.blogsome.com/2006/11/22/hello-world/</link>
		<comments>http://bahagia.blogsome.com/2006/11/22/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Nov 2006 05:10:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>khairul</dc:creator>
		
	<category>Konsep</category>
		<guid>http://bahagia.blogsome.com/2006/11/22/hello-world/</guid>
		<description><![CDATA[	Ada yang kaya, tapi hidupnya gelisah.
	Banyak yang miskin, dan gelisah juga!
	Ada juga yang kaya dan hidupnya bahagia. Yang miskin tapi bahagia ada juga.
	Saya yakin, kuncinya dimulai dari manajemen keuangan pribadi. Sering terjadi cekcok rumah tangga, sakit tak dirawat, dan lain-lain masalah, diawali karena masalah uang.Karena itu saya bertekad menemukan cara yang mudah dan praktis dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Ada yang kaya, tapi hidupnya gelisah.</p>
	<p>Banyak yang miskin, dan gelisah juga!</p>
	<p>Ada juga yang kaya dan hidupnya bahagia. Yang miskin tapi bahagia ada juga.</p>
	<p>Saya yakin, kuncinya dimulai dari manajemen keuangan pribadi. Sering terjadi cekcok rumah tangga, sakit tak dirawat, dan lain-lain masalah, diawali karena masalah uang.<br />Karena itu saya bertekad menemukan cara yang mudah dan praktis dalam mengelola uang, agar lebih banyak orang mencapai sejahtera dan bahagia.</p>
	<p>Bahagia dimulai dengan meraih kendali atas keuangan pribadi.
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bahagia.blogsome.com/2006/11/22/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
	</channel>
</rss>
